Demikian disampaikan oleh Sekretaris Pimpinan BP Migas Rudi Rubiandini ketika ditemui di Hotel Nikko, Jakarta, Rabu (20/4/2011).
"Sebenarnya tidak ada bedanya mau dikelola Pertamina atau siapa, memangnya lebih untung? Biasa saja. Tidak ada hal yang spesifik, tidak harus negara menjadi untung karena itu," katanya.
Perbedaan yang mendasar menurut Rudi adalah jika pengelolaan kontrak West Madura tersebut diberikan kepada Pertamina, maka PSC (Production Sharing Contract/Kontrak Bagi Hasil) akan menjadi 60%-40%, di mana 60% diberikan kepada negara dan 40% diperuntukkan kepada Pertamina.
Sedangkan jika dikelola kontraktor asing atau swasta maka PSC yang berlaku adalah 80%-15% (80% untuk negara dan 15% untuk kontraktor).
"Yang pasti West Madura itu barang bagus, grafiknya kan lagi naik," singkatnya.
Rudi menjelaskan saat ini memang terjadi penurunan di blok tersebut karena sudah tidak ada rignya, dan siap ditinggalkan mengingat pengelolaan lapangan yang dikelola oleh Kodeco tersebut akan segera habis 6 Mei 2011 mendatang.
"Siapa bilang (produksinya turun)? Kalau turun memang sudah pasti karena tidak ada rig dan lain-lainnya. Kan pengelolanya tinggal siap diusir," tukas Rudi.
"Namun ketika dikasih rig di situ, produksi akan langsung naik. Sehingga potensinya jelas meningkat," terangnya.
Dikatakan Rudi, potensi yang dimiliki Blok West Madura untuk memproduksi minyak bisa mencapai 29.000-30.000 bph (barel per hari). Hal tersebut bisa naik jika pengelolaan dilanjutkan kembali.
Akhmad Nurismarsyah – detikFinance
21 April 2011Kategori: Uncategorized . . Penulis: fkimuikabogor Suka



No comments:
Post a Comment